Luna dan Reina mau sekolah ke mana?

Pendidikan sekolah bagi luna serta reina sungguh adalah hal serius bagi kami. luna serta reina tidak dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran dan menjadi juara kelas. Mereka cukup mengembangkan satu-dua kemampuan lebih secara kontinu, meskipun tidak cakap dalam pelajaran lain. Kami ingin luna serta reina menemukan minatnya dan mengasah kemampuan yang ia minati setajam samurai. Sebelum minat itu mereka temukan, mereka diajarkan hal-hal penting—seperti nalar, kemampuan bahasa, kesadaran diri, dan lain-lain—yang bisa banyak menunjang perkembangan mereka di kemudian hari.

Atas dasar ini, selulus SD, luna hendak disekolahkan di SMP serta SMA yang dapat membantunya mengembangkan kemampuan sesuai dengan minatnya. Sekolah negeri yang cenderung mendidik anak-anak secara homogen terpaksa tidak dimasukkan dalam daftar sekolah yang hendak dijajaki lebih jauh. Tokyo Kenji Steiner School yang menawarkan pendidikan dengan pendekatan Steiner dan Keimei Gakuen yang berorientasi internasional adalah dua pilihan yang sementara ini didapat. Informasi mengenai sekolah lain masih dicari dan dikumpulkan.

Biaya sekolah swasta yang tidak murah tentu menjadi bahan pemikiran karena ketersediaan anggaran yang terbatas. Persiapan tabungan serta investasi yang dapat digunakan untuk keperluan sekolah luna serta reina lantas dibuat sejak awal. luna pun tahu bahwa ada dana yang disiapkan sedikit demi sedikit untuk sekolahnya di kemudian hari. Ia pun tahu bahwa tabungannya sendiri perlu terus ditambah untuk keperluan sekolahnya di masa depan.

Screen Shot 2014-02-24 at 2.51.43 AM

Ada keinginan untuk memberi kesempatan pada luna serta reina untuk bersekolah di negeri lain. Sebagai third culture kids, mereka tidak dididik menjadi orang Jepang atau orang Indonesia, namun menjadi warga dunia yang mau membantu orang-orang yang berkesusahan di belahan dunia mana pun. luna tentu sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia. Pada mereka berdua ditanamkan kesadaran bahwa taman bermain mereka bukan hanya Jepang atau Indonesia, namun dunia kreasi Tuhan yang penuh dengan cerita aneka rupa. Ke mana luna serta reina nanti bersekolah pun juga didasari oleh nalar ini.

Eropa adalah salah satu pilihan. Selain menawarkan biaya pendidikan yang lebih murah dibandingkan negara maju lain, luna serta reina dapat pergi ke negara Eropa tetangga selama liburan musim panas untuk mengenal kebiasaannya serta belajar bahasa lain. Bila mereka bersekolah di Jerman, mereka dapat pergi ke Perancis, Belanda, Spanyol, atau Italia. Saat liburan musim panas SMP/SMA, mereka bisa ke Hong Kong atau Cina untuk belajar bahasa Mandarin serta mengenal budaya dari negeri yang tidak lama lagi akan menjadi negeri terbesar di dunia. Tempat-tempat lain pun bisa dikunjungi saat liburan untuk melebarkan horizon mereka.

Dalam kaitan itu, masalah dana sekali lagi menjadi bahan pemikiran. Belajar di negeri lain tentu membutuhkan dana tidak sedikit. Karena itulah kami berusaha membekali luna serta reina nanti dengan kemampuan yang memungkinkan mereka untuk bekerja paruh waktu dan mendapatkan penghasilan yang lumayan selama bersekolah. luna tahu bahwa mungkin kami tidak bisa menyediakan seluruh dana untuk studinya dan ia perlu mencari tambahan untuk itu. Ia pun tahu bahwa kami juga bersekolah sambil bekerja dan menabung untuknya. Hal yang sama juga akan kami lakukan pada reina.

Namun demikian, sekolah bukanlah tujuan. Sekolah adalah jembatan menuju tujuan. Bila luna serta reina bisa mewujudkan impian atau tujuan tanpa lewat sekolah, mereka dapat berhenti sekolah seperti halnya Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. Seperti banyak orang yang justru eksis dari belajar otodidaknya, bila luna bisa menguasai berbagai bahasa secara fasih, ia punya peluang untuk menjadi interpreter, reporter berita dunia, world traveler dan penulis, staf atau manajer lembaga internasional, dan sebagainya. Bila luna serta reina bisa mengasah kemampuan lebihnya setajam samurai, tanpa lulus sekolah pun, kami yakin akan ada tempat bagi mereka di dunia ini.

Semoga Tuhan mengerti akan berbagai harapan ini. Amiiin.

Fuchu, 24 Februari 2014
Lihat daftar catatan lain

Advertisements
Posted in Pendidikan anak | Tagged | Leave a comment

Biaya Pendidikan di Jepang

Biaya pendidikan anak adalah salah satu perhatian utama orang tua saat ini. Orang tua ingin agar anaknya bersekolah di lembaga pendidikan yang dapat mengembangkan karakter positif anak, yang dapat mengasah kemampuan anaknya, yang memiliki guru-guru cerdas dan mau mendengarkan pertanyaan anak, dan/atau yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Kecenderungannya, semakin baik sekolah, semakin tinggi biayanya.

Di Jepang, pengembangan karakter adalah bagian penting dari pendidikan sejak kecil. Anak-anak dididik untuk mau berusaha keras, mandiri, belajar bekerja sama, berdisiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan lain-lain. Buah dari hal itu kiranya dapat dilihat dari karakter masyarakat Jepang pada umumnya.

Jepang pun memiliki standar pendidikan akademik yang cukup tinggi. Hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2012 atas kemampuan anak berusia 15 tahun dalam hal matematika, membaca, serta sains menunjukkan hal itu. Dari 65 negara yang disurvei, Jepang menduduki peringkat 7 dalam subjek matematika, dan peringkat 4 dalam kemampuan membaca serta sains (Indonesia peringkat 64 untuk matematika dan sains, serta peringkat 59 untuk membaca). Di antara negara-negara maju OECD pun, Jepang menduduki peringkat 1-3 untuk ketiga subjek tersebut.1

Sebagai bagian dari komitmen wajib belajar, pendidikan SD dan SMP diwajibkan bagi anak-anak. Selain beberapa sekolah tertentu, pemerintah daerah menyediakan sekolah negeri yang dapat dimasuki tanpa melalui ujian masuk. Biaya sekolah negeri pun relatif terjangkau bagi orang Jepang.

Namun demikian, bila ditanya, orang Jepang cenderung akan menjawab bahwa kualitas sekolah swasta lebih baik dibandingkan sekolah negeri. Seorang guru mengarang yang sudah dikenal secara nasional pun pernah menyarankan agar luna masuk dan belajar di sekolah swasta. Bagi orang tua yang menginginkan agar anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik, mereka pun harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit.

Dalam kaitan itu, di bawah ini adalah hasil survei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho) mengenai rata-rata biaya pendidikan sekolah di Jepang pada tahun 2012. Angka-angka biaya pendidikan yang juga dikonversikan dalam kurs Rupiah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Jepang, atau bahan perbandingan biaya pendidikan di Indonesia dan di Jepang.

Screen shot 2014-02-22 at 17.53.27

Untuk informasi biaya pendidikan per tahun dari jenjang TK hingga SMA dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Screen Shot 2014-02-22 at 7.10.18 PMSelanjutnya, tiga tabel di bawah ini dapat dijadikan gambaran biaya sekolah untuk jenjang S1, S2, dan S3 berikut dengan biaya hidup di Jepang.

Screen shot 2014-02-22 at 18.34.55Untuk biaya pendidikan jenjang S2 di Jepang:

Screen shot 2014-02-22 at 18.35.22Untuk biaya pendidikan jenjang S3 di Jepang:

Screen shot 2014-02-22 at 18.35.46Terakhir, bagi Anda yang ingin menyekolahkan anak Anda di Jepang dengan dana pribadi, kiranya Anda perlu menabung sejak awal.

Fuchu, 22 Februari 2014
Lihat daftar catatan lain

1 http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/PISA-2012-results-japan.pdf

Posted in Pendidikan anak, Sekolah Jepang | Tagged , | Leave a comment

Donasi dari warga dunia untuk warga dunia

Tanda-tanda bahwa luna tumbuh menjadi third culture kid sudah lebih terlihat. Ia tumbuh di tengah budaya yang berbeda dari budaya orang tuanya. Meskipun memiliki paspor Indonesia, ia tidak akrab dengan kebiasaan di Indonesia. Indonesia lebih merupakan passport country ketimbang home country. Meskipun mengenal kebiasaan Jepang, luna juga tidak merasa dirinya adalah orang Jepang. Mungkin demikian pula dengan reina beberapa tahun lagi.

luna - colorfulmosaicUntuk memberi pegangan identitas, luna dan reina dididik untuk menjadi warga dunia. Artinya, mereka dapat mengembangkan kualifikasi dan memilih di mana saja hendak tinggal. Mereka tidak harus mengikatkan diri pada suatu lokasi geografis sebagai home-nya. Home bukanlah masalah tempat, namun masalah kedekatan hati dengan orang-orang yang mereka kenal dan akan kenal di mana pun orang-orang itu berada. Yang penting bukan suku, bangsa, ras, etnik, agama, atau juga gender. Namun, kesadarannya sebagai manusia di tengah manusia serta makhluk lain di bumi Tuhan ini.

Dalam kaitan itu luna diajar untuk berbagi kepada mereka yang kurang beruntung di mana pun mereka berada. Kadang untuk korban bencana alam, kadang untuk anak-anak miskin, kadang untuk korban perang, dan lain-lain sampai untuk anjing korban bencana atau hewan yang hampir punah. Mereka bisa berada di Jepang, Afrika, Timur Tengah, Indonesia, Filipina, Vietnam, Amerika Latin, dan juga tempat-tempat lainnya.

Setiap kali melihat kotak sumbangan di supermarket atau mini market, atau orang yang memegang kotak amal di dekat stasiun, sejumlah uang lantas dimasukkan ke dalam kotak. luna pun sering meminta tambahan meskipun sebelumnya sudah memasukkan uang. Saat ada permohonan donasi yang dikoordinasi oleh sekolah, luna juga mengambil uang tabungannya sendiri dalam jumlah yang cukup banyak untuk ukuran anak SD. Dengan suka hati ia memasukkan uang ke dalam kotak-kotak donasi.

luna mengerti bahwa kami tidak akan kekurangan bila mendonasikan sedikit uang itu. luna tahu bahwa kami sering begitu saja mengambil uang dari dompet untuk donasi tanpa terlalu menghitung jumlahnya. luna paham bahwa uang koin ¥100 yang sering dipakai untuk membeli sewadah kecil jelly kesukaannya bisa digunakan untuk membeli obat-obatan, bahan makanan, susu, buku pelajaran, selimut, atau yang lain-lain bagi mereka yang kurang beruntung. Dari percakapan-percakapan, luna bisa belajar untuk percaya bahwa uang donasi tersebut tidak akan hilang, namun akan kembali dalam bentuk lain entah dari mana asalnya.

Pemberian donasi itu tidak sekedar ditujukan untuk mengajarkan kesadaran berbagi pada luna dan juga reina nantinya. Lewat donasi juga hendak ditanamkan kesadaran bahwa mereka yang kekurangan di berbagai negeri adalah juga warga dunia yang berhak hidup di bumi Tuhan. Di sisi lain, dengan melonggarkan batas suku, bangsa, ras, etnis, dan juga agama, luna dan reina mungkin nanti dapat belajar menjadi bagian dari warga dunia yang peduli pada warga dunia lainnya.

Lewat donasi, horizon kesadaran luna dan reina dibentangkan ke berbagai sudut dunia.

Fuchu, 8 Februari 2014
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak | Tagged | Leave a comment

Rapor cawu kedua, kelas 1 SDN 1 Fuchu, Tokyo

Tanggal 25 Desember 2013 adalah hari terakhir catur wulan (cawu) kedua di SDN 1 Fuchu, Tokyo. Pada hari itu luna menerima lembar rapor sekolah (ayumi) yang disatukan dengan rapor cawu pertama dan dijepit dalam map plastik. Orang tua tidak perlu datang ke sekolah dan rapor pun diberikan anak-anak kepada orang tuanya saat di rumah.

Dibandingkan dengan cawu pertama, terdapat lebih banyak hal yang dinilai pada cawu kedua. Untuk mata pelajaran bahasa Jepang, misalnya, pada cawu pertama hanya meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan pembicaraan, serta membaca dan menulis hiragana. Pada cawu kedua, seperti yang bisa dilihat di bawah, mencakup minat akan bahasa Jepang, kemampuan berdiskusi, menulis kalimat, pemahaman bacaan, serta penguasaan atas huruf kanji.

Ayumi cawu 2 kelas 1Meskipun sebelumnya terdapat ulangan bahasa Jepang dan matematika dengan nilai angka, penilaian rapor cawu kedua juga hanya dalam bentuk lingkaran. Perbedaan dari yang pertama, rapor cawu kedua ini sudah mencakup 3 kategori penilaian: “yoku dekiru (sangat bisa),” “dekiru (bisa),” dan “mou sukoshi (sedikit lagi)”. Kendati demikian, untuk penilaian pola hidup tetap hanya 2 kategori: dekiru dan mou sukoshi.

Seperti terlihat di bawah, terdapat 5 mata pelajaran dan 2 kelompok aktivitas yang dinilai. Dari itu hanya 2 yang benar-benar bersifat akademik dan disertai dengan pekerjaan rumah (PR) setiap hari. Yakni, bahasa Jepang dan matematika. Yang lainnya lebih bersifat aktivitas yang mementingkan ekspresi, kegembiraan, serta pola sikap. Untuk siswa kelas 1, pengembangan sikap adalah lebih penting ketimbang pengembangan kognisi.

Berikut ini adalah hal-hal yang dinilai pada cawu kedua kelas 1, SDN 1 Fuchu, Tokyo.

Bahasa Jepang
  • Memiliki minat terhadap bahasa Jepang dan berusaha belajar secara kontinu.
  • Dapat berbicara secara runtut, mendengarkan, dan berdiskusi dengan tidak melupakan hal-hal penting.
  • Dapat memikirkan dan menuliskan apa yang dialami atau dibayangkan dalam kata-kata serta kalimat yang runtut.
  • Dapat menyadari, membayangkan, dan membaca urutan serta latar masalah yang tertulis.
  • Dapat memahami karakteristik dan aturan kata, penggunaan huruf, dan sekaligus menuliskannya secara benar.
Matematika
  • Memiliki minat terhadap hitungan dan bentuk, serta berusaha belajar secara kontinu.
  • Dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan gambar atau sesuatu.
  • Dapat berhitung dan mengukur dengan benar.
  • Dapat berhitung dan mengukur dengan benar, menunjukkan hubungan jumlah dan memeriksanya.
Musik
  • Memiliki minat terhadap musik dan menikmati musik dengan gembira.
  • Dapat merasakan keasyikan musik dan mengekspresikannya dengan perasaan sendiri.
  • Dapat berhati-hati dengan nada dan warna nada, mengekspresikannya dengan gembira, serta membuat musik sederhana.
  • Dapat merasakan suasana lagu dan karakteristik musik, serta mendengarkannya dengan gembira.
Menggambar dan hasta karya
  • Dapat mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan.
  • Dapat mengembangkan ide sendiri dan membut hasta karya.
  • Dapat menggunakan peralatan dengan baik, merancang dan membuat sesuatu.
  • Melihat karya sendiri dan karya teman dan dapat merasakan hal-hal yang menarik dari karya-karya itu.
Olahraga
  • Dapat mematuhi ketentuan dan berolahraga secara kontinu.
  • Dapat memikirkan cara berolahraga.
  • Menguasai gerak-gerak dasar dalam olahraga.
Kegiatan sekolah
  • Pergi ke taman bermain dengan bersemangat. Menceritakan secara detil permainan labirin bola super yang paling mengasyikkan di Pusat Permainan Mini-mini serta menjelaskan alasannya. Melakukannya dengan penuh semangat untuk siswa kelas 1 tahun depan.
Pola hidup
  • Dapat memberi dan membalas salam.
  • Dapat mematuhi ketentuan.
  • Dapat mendengarkan pembicaraan dan bertindak.
  • Dapat bermain dengan gembira bersama teman-teman di luar.
  • Dapat menjaga dan merapikan barang-barang di sekitar diri sendiri.
  • Dapat menjaga agar tidak lupa membawa perlengkapan sekolah.
  • Dapat melakukan piket dengan baik.

Luna sendiri lebih banyak mendapatkan nilai yoku dekiru untuk pelajaran bahasa Jepang dan matematika, dan nilai dekiru untuk pelajaran musik, menggambar dan hasta karya, serta olahraga. Luna bilang ia tidak menikmati latihan musik di sekolah karena terlalu mudah buatnya. Ia sering tidak bisa benar-benar menyelesaikan gambar dan hasta karyanya karena terbiasa menggambar detil dan mengerjakan hasta karya pelan-pelan.

Selain itu, guru wali kelas luna juga memberi catatan opini yang bersifat positif tentang luna:

Luna bisa mengerjakan tugas dengan cepat saat piket membagikan makan siang, bisa naik tiang panjatan hingga puncak, dan bisa melompati balok lompat kuda yang disusun 4 tingkat menyamping. Luna juga mengikuti lari maraton dengan semangat dan bahkan bisa menyelesaikan lebih dari separuh lari kedua. Saat belajar pianika, luna menjadi guru kecil dan berbaik hati membantu mengajari teman-teman hingga bisa bermain pianika bersama.

Lantas, bagaimana dengan catatan kekurangan luna? Kekurangan luna tampaknya bukan merupakan fokus utama yang menurut sekolah perlu diperbaiki atau dikembangkan. Saat pertemuan konsultasi guru dan orang tua, guru wali kelasnya hanya berpesan satu hal tentang yang perlu diperbaiki dari luna. Yakni, agar luna tidak cuma memperhatikan kecepatan kerjanya sendiri, namun juga menyesuaikan dengan kecepatan kerja teman-teman lain. Cuma ini.

Lewat ayumi, perkembangan luna saat tidak berada bersama kami bisa dilihat. Nilai-nilai dekiru yang luna dapatkan bisa saja dilihat sebagai hal yang kurang memuaskan. Namun, hal itu bukanlah masalah karena luna memang tidak perlu menjadi master dalam segala hal. Sejauh luna bisa mengembangkan sikap-sikap positif, mengembangkan kemampuan bahasa Jepang dan analisa, serta memiliki teman-teman baik di sekolah, itu sudah cukup untuk saat ini. Semoga luna bisa mengembangkan dirinya terus di sekolah. (G. Nugroho)

Fuchu, 7 Januari 2014
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak | Tagged , | Leave a comment

The very hungry caterpillar

Buku ini adalah salah satu buku favorit luna dahulu saat balita. Kini, buku ini dibacakan untuk reina dua-tiga kali setiap hari. Ceritanya yang menarik, edukatif namun tidak menggurui, penuh warna, singkat dan padat sangat cocok untuk bacaan anak kecil. Lewat buku ini kami memperkenalkan konsep “buku” agar reina mengerti bahwa buku adalah sesuatu yang menarik. Seperti luna dahulu, dari buku ini pula reina diperkenalkan dengan bahasa Inggris. Dengan buku ini, kebiasaan membaca reina dibangun sejak dini.

Buku-buku karangan Eric Carle memang sudah jaminan mutu. Gambar kekanak-kanakan yang penuh warna dan imajinasi membuat buku-bukunya menjadi sangat terkenal di berbagai penjuru dunia. Buku The Very Hungry Caterpillar adalah buku Eric Carle yang paling terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam 55 bahasa. Di amazon.com versi karton buku ini dijual dengan harga $5,52 , sedangkan di amazon.co.jp buku ini dihargai ¥883.

IMG_0942    IMG_0943

Berikut ini adalah kutipan teks Inggris dari The Very Hungry Caterpillar:

“In the light of the moon, a little egg lay on a leaf.
One Sunday morning the warm sun came up and–pop!–out of the egg came a tiny and very hungry caterpillar.
He started to look for some food.
On Monday he ate through one apple. But he was still hungry.
On Tuesday he ate through two pears, but he was still hungry.
On Wednesday he ate through three plums, but he was still hungry.
On Thursday he ate through four strawberries, but he was still hungry.
On Friday he ate through five oranges, but he was still hungry.

He built a small house, called a cocoon, around himself. He stayed inside for more than two weeks. Then he nibbled a hole in the cocoon, pushed his way out and…
he was a beautiful butterfly!”

Bukan hanya anak-anak yang menyukai buku ini. Bila membacanya, Anda pun akan menyukainya. Go and get it!

Fuchu, 6 Desember 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Buku anak, Pendidikan anak | Tagged , | Leave a comment

Tantangan berat tiga bahasa sehari

Banyak anak di Indonesia punya potensi besar menjadi seorang dwibahasa. Mereka dibesarkan di rumah dengan menggunakan bahasa daerah dan kemudian dididik dengan bahasa Indonesia di sekolah. Tanpa mengalami kesulitan berarti, mereka dapat bercakap-cakap dengan kedua bahasa tersebut dengan baik.

Namun karena hanya digunakan untuk percakapan biasa di rumah, potensi kemampuan bahasa daerah anak-anak tersebut lantas tidak berkembang. Mereka tidak mampu menggunakannya pada tingkat yang lebih sulit. Huruf-huruf asli bahasa daerah pun telah terlupakan. Meskipun bahasa daerah lantas juga diajarkan di sekolah, karena tidak dibiasakan, potensi dwibahasa tersebut itu hanya menguap sayang.

Bagi anak-anak, bahasa adalah masalah kebiasaan. Mereka cenderung menyerap begitu saja bahasa yang digunakan tanpa memahami tata bahasanya. Kebiasaan mendengarkan, bercakap, membaca, serta menulis membuat mereka tahu begitu saja bagaimana cara berbahasa. Pelajaran bahasa lantas memperbaiki kekeliruan-kekeliruan berbahasa dan melatihkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Yang pertama adalah kebiasaan, yang berikutnya adalah polesan pelajaran.

luna tumbuh dalam lingkungan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jepang. Di rumah, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa percakapan. Karena kesulitan mendapatkan buku berbahasa Indonesia, luna banyak dibacakan bacaan berbahasa Inggris. Di sekolah, ia harus berinteraksi dan belajar bahasa Jepang.

Meskipun bisa memahami percakapan dalam 3 bahasa tersebut, luna masih belum dapat disebut menguasai ketiga bahasa tersebut. Ia bisa bercakap dan mengarang dalam bahasa Jepang, namun masih perlu belajar ribuan huruf kanji. Ia bisa membaca, mendengarkan, dan bercakap dalam bahasa Inggris, namun masih perlu terus berlatih menuliskan kata-kata bahasa Inggris dan juga mengarang. Meskipun dapat bercakap dengan kalimat yang jelas dalam bahasa Indonesia, luna masih perlu berlatih membaca dan menulis teks bahasa Indonesia dengan lancar.

Kondisi semacam ini bukan tanpa risiko bagi luna. Bila tidak dibiasakan dan dilatih benar, seperti pengalaman seorang profesor Jepang mengenai anaknya yang besar di Amerika, bukan tidak mungkin luna menjadi tidak menguasai satu pun bahasa dengan baik. Selain itu, seperti anak-anak Indonesia yang kehilangan kemampuan berbahasa daerah, apa yang telah luna kuasai saat ini pun bisa terbuang bila tidak dikembangkan.

IMG_0909Dari percakapan-percakapan yang sering dilakukan, luna mengerti bahwa kemampuan bahasanya bisa berkurang bila tidak dilatih secara rutin. Ia sadar bahwa ia punya potensi kemampuan bahasa yang besar. Kemampuan bahasanya telah jauh melebihi orang tuanya saat seusianya, dan juga banyak anak-anak lain. Saat ditanya apakah luna yakin bisa menguasai beberapa bahasa, luna menjawab, “Bisa, kalau belajar terus nanti bisa.” luna tahu bahwa bila ia melanjutkan sekolah di Eropa suatu waktu nanti, ia bisa belajar beberapa bahasa lain seperti Jerman, Perancis, Spanyol, dan lain-lain. Ia pun tahu bahwa ia bisa menjadi seorang poliglot.

Oleh karena itu, kami memberi luna menu belajar ketiga bahasa tersebut setiap hari. Salah satu tantangan beratnya adalah bahwa porsi latihan perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu banyak dan membebani, dan masih memberi luna cukup waktu bermain dan menonton video yang ia sukai. Proses pembiasaan itu pun perlu berlangsung kontinu.

Selain interaksi dan pelajaran sekolah, luna kami pinta untuk mengarang dalam bahasa Jepang pada akhir pekan. Awalnya hanya 4 kalimat. Saat ini karangan luna telah menjadi cerita-cerita pendek yang bila mungkin akan diterbitkan, baik dengan biaya sendiri atau dengan penerbit. Karangan-karangan pendek tersebut lantas diperiksakan pada teman-teman Jepang yang baik hati, dan ditunjukkan perbaikannya kepada luna.

Untuk bahasa Inggris, luna mengikuti kursus mingguan yang lebih menekankan pada komunikasi aktif ketimbang tata bahasa. Pada hari libur, luna menonton animasi Disney lewat TV kabel untuk membiasakan pendengarannya. luna juga ditemani untuk mengerjakan 5 halaman Let’s Go workbook setiap hari untuk latihan menulis, yang rata-rata bisa luna selesaikan dalam 15 menit. Tahun depan, bila luna sudah lancar menulis, kami akan memintanya berlatih mengarang pula, bergantian dengan karangan bahasa Jepang.

Untuk bahasa Indonesia, kami mengondisikan luna agar hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk bercakap-cakap di rumah. Bercakap menggunakan bahasa Jepang malah akan merusak pelafalan bahasa Jepang luna. luna ditemani membaca dan mengerjakan buku Indahnya Bahasa dan Sastra Indonesia yang dapat diunduh gratis dari situs buku sekolah elektronik Kemendiknas. Waktunya juga hanya sekitar 15 menit setiap kali latihan. Nanti pun luna belajar mengarang dalam bahasa Indonesia.

Proses pembiasaan dan berlatih bahasa Jepang, Inggris dan Indonesia ini telah berlangsung 8 bulan dan akan diteruskan hingga luna lulus SD. Tantangan berat lainnya adalah menemani luna melanjutkan proses ini secara kontinu setiap hari selama lebih dari 5 tahun lagi. Semoga luna bisa benar-benar menguasai ketiga bahasa tersebut ketika ia lulus SD. まだ 前途遼遠だ (Mada zentoryouen da)Still a long way to go. Jalan masih jauh.

Fuchu, 5 Desember 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Belajar bahasa, Pendidikan anak | Tagged , , | Leave a comment

Reina, welcome to the jungle!

Setelah kurang lebih 9 bulan dalam kandungan, reina pun lahir pada awal September 2013 di Tokyo Metropolitan Tama Medical Center. luna pun bersuka menyambut adik perempuan yang telah ia tunggu beberapa lama. Syukurlah, proses kelahirannya berlangsung lancar dan reina terlahir sehat.

IMG_0659Setelah mencari nama-nama yang mudah diucapkan dan diingat orang dari berbagai negeri, pilihan pun jatuh pada nama “reina”.  Dalam bahasa Perancis dan Spanyol, reina berarti ratu. Dalam bahasa Jepang, nama reina dapat ditulis dengan huruf kanji “麗奈” yang masing-masing huruf berarti cantik dan Nara. Dalam bahasa Inggris Amerika, nama ini bermakna murni dan bersih. Di Indonesia, nama ini mirip dengan nama “rina”, sehingga mudah pula diucapkan banyak orang.

Lahir di Tokyo dari orang tua yang berkewarganegaraan Indonesia akan membuat reina menjadi a third culture kid. Meskipun di rumah dibesarkan dengan bahasa percakapan bahasa Indonesia, reina akan relatif tidak terbiasa dengan pola kebiasaan di Indonesia. Bagaimanapun, reina juga akan berjarak dari kebiasaan masyarakat Jepang karena tidak sepenuhnya dibesarkan bersama orang Jepang.

Karena itu, sama seperti luna, kami bermaksud membesarkan reina menjadi warga dunia. Kewarganegaraan adalah masalah administratif. reina bisa mengembangkan kualifikasi dan lantas memilih di mana ia mau tinggal di bumi Tuhan ini. Ia dapat berteman dengan orang-orang dari berbagai negeri dan membantu mereka yang berkesusahan di berbagai tempat di dunia. Sikap kosmopolit dan humanis juga akan diajarkan agar reina menghargai perbedaan budaya, agama, etinis, dan lain-lain. Dengan ini, meski menjadi anak multikultural, kami berharap agar reina tetap memiliki pegangan identitas dalam hidupnya.

Sama seperti pada luna, kami juga hendak membukakan berbagai jendela dunia pada reina. Lewat jendela-jendela itu reina bisa mengenal dunia dan memahami berbagai konsekuensi dari suatu pilihan. Dari situ reina bisa belajar membangun argumentasi saat ia hendak memilih satu pintu yang hendak ia jalani. Kami tidak hendak meminta reina menjadi anak yang patuh tanpa alasan pada kata-kata kami. Sesuatu selalu perlu alasan. Bila reina bisa mengemukakan alasan yang masuk akal dan kuat, maka reina bisa membuat pilihan yang berbeda dari preferensi kami.

Sejauh ini, kami belum pernah berdoa agar reina menjadi anak yang berbakti. Membesarkan, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang pada reina adalah sebuah konsekuensi dan tanggung jawab dari pilihan yang kami buat. reina tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kamilah yang membuatnya terlahir di dunia. Apakah reina akan membalas apa yang kami berikan padanya di kemudian hari merupakan hak sepenuhnya dari reina untuk memilih. Terserah padanya dan kami tak hendak memintanya.

Seandainya pada suatu waktu nanti reina melakukan kekeliruan besar, kami akan meminta reina untuk bertanggungjawab atas kekeliruan yang ia buat dan memberi dukungan agar ia bisa memenuhi tanggung jawabnya. Kami tak hendak meninggalkan reina sendirian belajar dari kekeliruannya. Dalam kondisi apapun, kami hendak menyediakan home baginya untuk pulang, mendengarkan ceritanya, juga mengeluh. Home bukanlah masalah rumah fisik. Home adalah masalah hati, tempat ia bisa merasa nyaman dan pulang di mana pun ia berada. Kami ingin berusaha menjadi teman serta orang tua yang selalu dapat ia percaya. Bila ia berada di negeri lain nan jauh dan keadaan menuntut kami untuk datang, kami akan berusaha datang agar bisa memberi dukungan yang ia butuhkan.

Sungguh, membesarkan dan mendidik anak bukanlah hal mudah. Semoga kami bisa memenuhi harapan untuk menjadi teman serta orang tua psikologis yang baik bagi reina. Semoga reina bisa mewujudkan harapan-harapan yang ia bangun nanti. Semoga Tuhan tidak berjarak dari kami. Amiiin.

Fuchu, 3 Desember 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak | Tagged | Leave a comment

Mainan berkelamin atau androgini?

Suatu waktu luna pernah ditanya oleh anak tetangga, “Anak perempuan kok main mobil radio kontrol? Itu kan mainan anak laki-laki.” Jawab kami, “Lho, mobil radio kontrol kan tidak punya kelamin, tidak punya memet atau titit. Jadi, kenapa anak perempuan tidak boleh main?”

Di saat yang lain saat membeli pakaian bayi, si penjual bertanya, “Bayinya laki-laki atau perempuan? Ini pakaian dengan warna-warna anak laki-laki.” Jawab kami, “Bayinya perempuan, tapi memakai pakaian dengar warna-warna seperti ini juga.”

Pertanyaan semacam itu biasa dijumpai di tengah masyarakat yang membedakan gender, termasuk di Jepang dan Indonesia. Dalam hal ini, karakteristik serta peran sosial perempuan dan laki-laki dibedakan berdasarkan pemaknaan yang dibiasakan oleh masyarakat. Apa yang feminim dan maskulin dibedakan secara sosial. Bagi banyak orang, menjadi anak perempuan berarti memakai baju berwarna manis (merah muda, krem, dll.), bermain boneka, belajar memasak, tidak banyak tingkah, dan lain-lain; dan menjadi laki-laki berarti bermain bola, berpakaian biru, bertukang, dan seterusnya. Di tingkat selanjutnya, pembedaan tersebut berlanjut dalam kecenderungan pembagian kerja. Menjadi perempuan berarti mengurus anak dan rumah; dan menjadi laki-laki berarti aktif bekerja.

Namun, sesungguhnya tidak ada hubungan inheren antara jenis kelamin dengan warna baju, mainan, dan berbagai peran sosial. Koki-koki masak yang terkenal banyak diisi oleh laki-laki. Posisi Menteri Luar Negeri Amerika juga sering diisi oleh perempuan. Perbedaan kekuatan fisik antara laki-laki dan perempuan bisa jadi juga merupakan hasil pembiasaan dan evolusi selama sekian lama. Anak perempuan yang berlatih beladiri pun bisa lebih kuat ketimbang anak laki-laki. Artinya, pembedaan gender tersebut adalah sebuah kecenderungan dan bukanlah hal mati yang tak bisa berubah.

P1000139Sejauh ini luna dididik dan dibesarkan tanpa pembedaan gender yang ketat. Ia sering ikut memperbaiki sepeda atau menambal ban; luna memilih topi cap ketimbang topi perempuan, dan memakai celana ketimbang rok; ia juga bermain dodgeball dan kickball dengan teman laki-laki, bermain layang-layang, serta radio kontrol; luna juga dilatih untuk membawa barang-barang yang lumayan berat untuk menguatkan fisiknya. Di sisi lain luna juga belajar menjahit, menulis dengan huruf rapi, menyeterika baju, dan lain-lain. Di rumah luna juga sering melihat dan membantu papah memasak, mencuci piring, sampai membersihkan rumah. Secara sengaja, luna dididik dengan sikap androgini yang menggabungkan karakteristik feminim dan maskulin sekaligus.

Namun bagaimanapun, luna tumbuh besar di tengah masyarakat Jepang yang sangat membedakan gender. Meskipun diajari untuk mengenakan berbagai warna pakaian, luna cenderung memilih warna-warna feminim dan tidak ingin mengenakan warna-warna maskulin. Meskipun sering bermain dengan anak laki-laki, luna lebih senang berangkat sekolah bersama dengan anak perempuan. Sampai titik tertentu, luna tetap mengembangkan sifat-sifat feminim seperti kecenderungan umum dalam masyarakat.

Apakah saat besar luna akan menjadi seorang androgini atau memilih peran feminim belumlah jelas saat ini. Kalau toh luna mengembangkan banyak sifat feminim, setidaknya ia tahu bahwa perbedaan gender bukanlah pilihan mati yang harus diikuti begitu saja. Dari penjelasan yang telah diberikan, luna tahu bahwa perbedaan gender itu adalah buah kebiasaan masyarakat. Dengan pengalaman melakukan hal-hal yang bersifat maskulin, ia pun punya pilihan untuk melakukannya lagi. Yang terpenting,  jendela pilihan tentang hal ini telah dibukakan buatnya.

Apakah nanti akan menjadi androgini atau feminim, luna berhak memilihnya sendiri.

Fuchu, 27 November 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak | Tagged , , | Leave a comment

Memaparkan dan menjelaskan tayangan kekerasan

Tidak sedikit ulasan tentang efek negatif tayangan berbau kekerasan fisik pada anak-anak. Anak-anak dipandang belum bisa menyaring mana informasi baik dan buruk. Mereka dikhawatirkan akan meniru kekerasan fiksi yang diperlihatkan dalam film animasi, permainan video, atau berita. Secara eksplisit atau implisit, ulasan-ulasan tersebut menyarankan untuk menjauhkan anak-anak dari tayangan berbau kekerasan fisik. Harapannya, anak-anak menjadi tidak terbiasa, tidak mengacu padanya saat menyelesaikan masalah, dan tidak menggunakan kekerasan fisik dalam tindakannya.

Kendati demikian, berbagai tayangan tersebut kiranya adalah potret nyata tentang dunia. Dunia tidak bebas dari konflik dan dominasi. Kekerasan fisik adalah hal jamak. Meskipun anak-anak dijauhkan dari tayangan semacam itu, cepat atau lambat mereka akan melihat sendiri yang senyatanya atau bahkan mengalaminya.

Walhasil, tanpa pengenalan serta penjelasan yang memadai mengenai kekerasan fisik, anak-anak akan lebih gagap bersikap menghadapi tayangan atau aksi kekerasan fisik yang muncul di hadapan mereka. Di saat remaja, ketika anak cenderung labil dan pengaruh teman-teman sebaya makin besar, mereka pun bisa terpengaruh oleh teman-temannya yang mungkin dekat dengan kekerasan. Artinya, menjauhkan anak-anak dari tayangan kekerasan fisik tidak cukup memberi mereka benteng pertahanan. Mereka butuh penjelasan lengkap mengenai makna kekerasan fisik agar tidak menjadikan tayangan kekerasan sebagai contoh bertindak. Dengan pemahaman yang cukup, tayangan itu juga akan menguatkan hati anak-anak dalam menghadapi dunia yang senyatanya. Dan bila mungkin, juga berlatih menghadapinya.

Luna sendiri cukup sering melihat tayangan berbau kekerasan fisik di TV, video, atau youtube. Baik menonton atau dipertontonkan. Ia melihat tontonan tentang berbagai perang di dunia, mengenai genosida di Rwanda, perihal aksi pemboman dan penangkapan terduga teroris, tentang tawuran pelajar, mengenai aksi kriminal, juga perihal penggencetan yang tidak jarang terjadi di Jepang. Meskipun kadarnya tidak vulgar dan ada sensor di beberapa bagian, luna melihat bagaimana kekerasan fisik tersebut serta kondisi korban yang ditimbulkan. Selain itu, luna juga menyukai film animasi One Piece yang diwarnai dengan banyak pertarungan.

Sebagai anak perempuan yang cenderung pemalu, luna juga kadang kala menjadi sasaran penggencetan (bullying) ringan dari beberapa temannya. Tidak sampai tingkat berbahaya. Hanya kata-kata verbal yang tidak mengenakkan, didorong, ditepuk kepalanya, dan beberapa aksi lain yang tidak dilakukan dalam konteks bercanda. Karena sikap pemalunya, luna tidak melawan. Namun terlihat jelas bagaimana ia merasa tidak nyaman dengan hal itu. Artinya, meskipun anak-anak dijauhkan dari tayangan berbau kekerasan, mereka ternyata sudah harus menghadapinya langsung di dunia nyata.

IMG_8930Luna sendiri selalu mendapat penjelasan panjang lebar mengenai setiap tayangan kekerasan fisik yang ia lihat. Ia perlu mengerti mengapa kekerasan fisik itu terjadi, apa akibat-akibatnya, bagaimana sakit serta penderitaan yang dialami oleh korban kekerasan, mengapa orang melawan atau membela diri, bagaimana menyikapi kekerasan fisik; mengapa terjadi perang sipil di banyak negara, mengapa ada pemerintah yang kejam terhadap rakyatnya, mengapa ada perbudakan; mengapa Luffy—tokoh di animasi One Piece—melawan bajak laut jahat atau pasukan Angkatan Laut yang tidak adil, dan lain-lain. Hal-hal tersebut tidak hanya dipaparkan satu-dua kali. Namun, banyak kali, setiap ada kesempatan.

Atas penggencetan (bullying) ringan yang ia alami, luna kami minta bercerita tentang apa yang ia alami dan rasakan. Dengan sepengetahuan luna, kami pun memberitahukan masalah ini kepada gurunya lewat buku komunikasi orang tua-guru. Saat ada kesempatan bermain bersama dengan teman yang menggencetnya, kami juga mengajak teman tersebut bermain bersama luna. Pada saat lain, saat luna bisa bersikap tenang menghadapi penggecetan verbal sendiri, kami cuma diam melihat reaksi luna dan kemudian menjelaskan padanya mengapa kami bersikap demikian. Untuk membangun kepercayaan luna, kami menunjukkan secara eksplisit pada luna bahwa kami akan selalu berdiri di sampingnya dan siap membantunya bila ia tidak bisa menyelesaikannya sendiri.

Kini salah satu teman luna yang dulu sering melakukan penggencetan ringan itu telah menjadi teman luna. Kadang kala mereka berjalan kaki berangkat ke sekolah bersama. Saat di rumah, kami juga sering bermain silat-silatan. Dan bila ada kesempatan nanti, seperti yang luna minta sendiri sebelumnya, kami akan mengikutkannya latihan beladiri seperti kempo atau yang lain. Selain kuat hati, kuat badan juga perlu untuk menghadapi kekerasan.

Fuchu, 25 November 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak | Tagged , | Leave a comment

Undokai (Festival Olahraga) SDN 1 Fuchu, Tokyo

Sekolah-sekolah di Jepang, mulai dari TK hingga SMA, selalu menyelenggarakan undokai atau festival olahraga setiap tahun. Sebagian sekolah mengadakan undokai pada akhir Mei – awal Juni, saat suhu udara telah hangat. Kebanyakan yang lain menyelenggarakannya pada musim gugur antara akhir September – awal Oktober yang tidak terlalu panas atau dingin, menjelang Hari Olahraga yang jatuh setiap Senin minggu kedua bulan Oktober.

Setelah persiapan latihan beberapa lama, undokai di SDN 1 Fuchu Tokyo pun diadakan pada hari Sabtu 28 September 2013, dari pukul 08.30 hingga 15.00. Undokai itu terasa lebih istimewa karena juga menjadi perayaan peringatan pendirian SD yang ke-140. Sebanyak lebih dari 700 siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, turut berpartisipasi dalam kegiatan yang penuh dengan kemeriahan ini. Mereka mengenakan pakaian serta topi olahraga sekolah. Guru-guru mengatur para siswa mengikuti undokai. Para orang tua yang mendapat giliran piket dari Perhimpunan Orang Tua-Guru bertugas mengatur para orang tua lain yang datang menonton aktivitas anak-anaknya.

Selain sebagai aktivitas olahraga, festival olahraga ini juga dimaksudkan untuk menanamkan arti penting kerjasama kelompok pada siswa. Siswa dari masing-masing kelas dibagi 2 dan digabungkan ke dalam 2 kelompok besar: kelompok topi merah dan topi putih. Ada pertandingan yang dilakukan oleh seluruh anggota kelompok besar sekaligus. Ada pula pertandingan antara kelompok-kelompok kecil yang poin kemenangannya lantas digabungkan menjadi poin kelompok besar. Poin kemenangan pertandingan lari yang bersifat individual pun juga digabungkan menjadi poin kelompok besar. Artinya, setiap siswa harus berusaha dan bekerjasama agar kelompok besarnya bisa menang dalam undokai tahun ini.

Undokai 2013 Lempar bola keranjangSiswa kelas 1 bertanding lempar bola keranjang. Siswa kelas 2 dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang berlomba menggelindingkan bola raksasa berdiameter 1,5 meter. Siswa kelas 3 dan 4 dari masing-masing kelompok bertanding lari estafet mengelilingi halaman sekolah nan luas. Siswa kelas 5 dan 6 membentuk kelompok-kelompok kecil untuk bertanding tarik tongkat yang mirip tarik tambang dan beradu kuda gendong guna menjatuhkan gendongan kelompok lain dan. Secara bersama siswa kelas 1-6 dari masing-masing kelompok besar berlomba menggulirkan bola raksasa dengan tangan di atas kepala mereka.

Undokai 2013 Joy! Joy!Selain itu, para siswa juga melakukan berbagai pertunjukan bersama yang tidak diperhitungkan sebagai pertandingan. Siswa kelas 1 mempertunjukkan aksi pemandu sorak “Joy! Joy!” dengan hula-hula dari tali rafia. Siswa kelas 2 menampilkan tari rakyat yosakoi. Siswa kelas 3 menyuguhkan tarian gembira dengan iringan lagu Life is a party, tabuhan taiko, sorak-sorai, serta kibaran bendera-bendera besar. Siswa kelas 4 mempertunjukkan tarian rancak Soran Bushi yang merujuk pada tarian tradisional nelayan Hokkaido, sambil menyuarakan semangat “Dokko isho!” dan “Yoisha!”. Siswa kelas 5 menampilkan bangunan piramida manusia. Siswa kelas 6 menyuguhkan pertunjukan drum band dengan berbagai alat musik.

Aktivitas yang berlangsung di atas halaman rumput itu berlangsung meriah dengan sorak-sorai semangat. Para siswa bertanding tanpa mengenakan sepatu. Ada yang bersuka karena memenangkan pertandingan dan ada yang bersedih menangis sebab kalah berlomba. Para guru dan orang tua melihat, memberi semangat, serta memuji usaha keras anak-anak. Semua tampak menikmati festival yang berlangsung setahun sekali itu.

Akhirnya, undokai tahun 2013 di SDN 1 Fuchu dimenangkan oleh kelompok topi putih. Pujian diberikan pada kelompok putih atas kemenangan yang mereka raih dan pada kelompok merah atas usaha keras yang sudah mereka lakukan. Kedua kelompok pun menerima piala bergilir dari sekolah.

Undokai lalu ditutup dengan bersama-sama melakukan tarian rakyat yang biasa dilakukan saat festival musim panas oleh semua yang hadir. Bagi anak-anak, festival olahraga yang dilakukan setiap tahun itu tidak cuma mengajarkan semangat kompetisi, namun juga semangat kerjasama dan kebersamaan yang menyenangkan.

Fuchu, 28 September 2013
Lihat daftar catatan lain

Posted in Pendidikan anak, Permainan anak, Sekolah Jepang | Tagged , , | Leave a comment